Tertawalah dalam tangismu…

Malam semakin larut, sunyi dan tenggelam dalam kelam. Setelah berjalan pulang, melewati ramai manusia dikedai-kedai, segera menelentangkan tubuh di pembaringan. Ternyata ada banyak canda tawa, tempat berkumpul-kumpul, bercerita di malam yang sesunyi ini. Teringat, di siang hari pun lebih lagi. Lebih banyak lagi kegiatan tawa canda, kumpul-kumpul, cerita-cerita. Hidup sepertinya indah. Penuh tawa, canda. Tapi apa benar, canda tawa adalah sebuah keindahan?

Jauh nun di pelosok bumi, entah dimana dibawah temaram malam, ada insan-insan yang tersedu-sedu. Sedih sekali. Meraung, meronta. Mereka –para manusia terasing ini– bukan seperti manusia biasa yang menangis karena kecewa, kehilangan, atau sesuatu yang telah terjadi dan hilang tak kembali. Mereka –manusia terasing ini– menangis karena sesuatu yang belum terjadi, belum terlihat, bahkan belum dapat terbayangkan. Sesuatu itu adalah kematian dan siksaan mengerikan di alam kubur, sesuatu yang mereka –insan cerdas ini– tangisi adalah ketika membayangkan suatu saat dimana wajah tertunduk malu karena melihat dan diperlihatkan aib-aib diri yang memalukan, sesuatu yang mereka tangisi itu adalah suatu saat ketika tak ada satupun penolong diri, selain amal di dunia. Sesuatu itu adalah suatu ketika saat mereka tak tahu, mana yang lebih berat, timbangan kebaikan, atau timbangan kejahatan. Ya, mereka –manusia tersembunyi ini– menangisi sesuatu yang belum terjadi itu.

Sesuatu itu belumlah terjadi, tetapi, mereka -insan terpuji ini- telah berani mencuri start, berinovasi jauh kedepan, memutus ruang dan waktu, untuk terlebih dahulu menangisi sesuatu yang tiap jiwa akan menangisinya kelak.

“Setiap mata akan menangis di hari kiamat, kecuali mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.”

Maka mengertilah kita, mengapa mereka mencuri-curi menangis jauh sebelum kita –manusia-manusia yang selalu tertawa ini– sadar. Bahkan kita masih berani tertawa, setelah tahu bagaimana mereka -insan mulia ini- menangis bahagia. Padahal kita yang tertawa, tidak sebahagia mereka yang menangis. Disini, kesadaran itu dibangun melalui sebuah drama berjudul paradoks manusia mulia -ketika menangis adalah kebahagiaan-. Sementara di satu bumi yang sama, di sisi yang lain, kita -naudzubillah- mungkin saja masih bermain drama kuno berjudul litotes tertawa -ketika tawa menjadi siksa-

Bukan tawa itu dilarang, Semoga tawa kita karna bermakna, tangis kita berbuah pahala. Amin Ya Rabb.

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam, 19:58)

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk,” (QS Al-Isra, 17:109)

Untuk mataku yang telah lama mengering, basahlah lagi, sirami hati ini dengan iman.

10 responses to this post.

  1. Posted by pdsashanti on November 27, 2008 at 12:54 pm

    semoga bukan karena cinta…
    semoga airmata ini lebih banyak menetes untukNya
    untuk Dia yang memberi dan tak memberikan segalanya
    untuk Dia yang selalu membantuku setiap relung waktu…
    dan aku ingin berahasia….dalam cintaku padaNya

    amiin…

    Balas

  2. Posted by afateeh on Desember 2, 2008 at 2:55 am

    Subhanallah..
    semoga airmata ini selalu menangis untuk mengingat dosa dosa yang telah kita lakukan. dan menangis karena takut kepada ALLAH..
    semoga ALLAH selalu memberikan pada kita

    Balas

  3. Satu lagi…,”Air mata yang menangis karena mengingat dan takut karena Allah,maka diharamkan atasnya api neraka”.

    Balas

  4. Ya ALLAH jadikan pemilik blog ini manusia pilihanMU yang berkeyakinan bahwa bumiMU yang terhampar luas adalah masjid baginya, kantornya adalah musholahnya, meja kerjanya adalah sajadah,

    Kemudian fungsikan setiap tatapan matanya penuh rahmat dan kasih sayang sebagai refleksi dari penglihatanMU, jadikan pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerak hatinya sebagai doa, bicaranya bernilai dakwah, diamnya full zikir, gerak tangannya berbuat sedekah, langkah kakinya jihad fi sabillillah.

    Selamat hari raya IDUL ADHA …

    RINDU a.k.a ADE

    hmm.. suatu kehormatan sudah mau datang ke blog kecil ini, Selamat Idul Adha juga mbak.. ^_^ ade

    Balas

  5. Selamt idul adha semua….

    Balas

  6. amin
    semoga iman selalu di dada kita semua

    Balas

  7. tapi gue klo nangis ga’ bisa ketawa.. knapa yach?! pa mungkin gue kena syndrome aer limpa..😀 hmm.. paztinya g’ nyambung bgd..

    asyiiikk jgaa…🙂

    Balas

  8. Smoga jejak-jejak air yang melekat pada bawah mata kita, smoga tapak-tapak hitam yang menempel pada dahi kita

    adalah pelindung bagi diri kita dari hari di mana orangtua dan anak bisa saling menyalahkan, dimana buku catatan kita dalam nanodetik (bahkan lebih rinci daripada itu) ditampakkan…

    amiin ^^

    Balas

  9. Yupz bener bangets… Coz semua yang da di dunia ini bersifat fana.. (walah?!).. Thankz.. N jngan segan tuk maen ke my blog ye..🙂

    Balas

  10. Posted by hamaxs007 on Desember 20, 2008 at 4:33 pm

    Dari teman barumu !
    Assalamu Allaikum Wr. Wb.

    Wah rupanya ada Da’i yang suka posting ya…
    Kalau aku baca seluruhnya sampai selesai, bisa-2 aku nangis darah dong ?
    Ngomong-2 kamu belajar ngaji dimana sih ?
    Boleh dong aku ikutan…

    Cukup sekian dan terima kasih.
    Wassalamu Allaikum Wr. Wb.

    wa’alaikumsalam.wr.wb ^^

    belajar ngaji? dimana aja koq, kalo ada yang bagus di denger..
    tapi lebih kebanyakan baca buku. slam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: