Dua Mata, Lidah dan Dua Buah Bibir…

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Ketika membaca ayat ini, saya seolah-olah bisa melihat. Melihat apa yang pernah saya lihat dan apa yang akan saya lihat. Tak terhitung sudah hal-hal terlarang yang sudah mata ini lihat. Banyak sekali, bahkan hal itu (sangat) mungkin akan terus berlanjut. Benar, saya dianugrahi karunia besar berupa mata ini agar saya dapat memilih jalan yang benar atau jalan yang salah. Benar2 pilihan demokratis, dan saya lebih banyak menyalahgunakan kebebasan itu, dengan menyalahgunakan mata ini. Semoga saya bisa kembali dan bertahan untuk tetap menggunakan mata ini pada jalan yang benar. (tak terbayangkan jika jendela hati ini diambil, maka apalagi yang harus saya perbuat, naudzubillah)

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Juga ketika membaca ayat ini, saya seolah kembali merangsek, mengarungi memori lampau. Teringat apa saja yang pernah saya katakan. Terlalu banyak, (bahkan tak terhitung oleh saya) kata-kata kotor, bergunjing, memaki, berteriak kasar dan lainnya yang benar2 salah saya gunakan lidah ini. Padahal saya, dengan lidah ini, telah diberikan dua pilihan, baik atau buruk. Ternyata saya, lebih banyak menggunakannya untuk hal-hal yang tak sewajarnya. (hal memalukan, yang bahkan saya tau itu memalukan, tapi terus saya kerjakan).

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Masih ketika membaca ayat ini, dua bibir saya, bersamaan dengan lidah. Entah telah berlaku dan bercakap apa. Tetap memalukan. Tapi tetap tak bisa mengendalikan.

“ Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya.

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. ” (QS.Asy-syams [91]:7-10)

Benar, dalam diriku, ada ilham kejahatan dan ketaqwaan. Dan benar jika ilham kejahatan disebutkan terlebih dahulu, bahwa ternyata saya ini lebih cenderung ‘ringan’ berbuat jahat dibandingkan berbuat baik yang ternyata lebih ‘berat’. Tapi malu sekali rasanya, jika harus becermin lagi. Saya ini termasuk golongan yang menyucikan jiwa, dengan mata, lidah, dan bibir saya. Atau malah (cenderung) mengotori hati dengan melihat, berucap, dan bertingkah yang salah. Benarkah hati ini telah kotor dan saya pelakunya…

“ Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya [ dengan perintah dan larangan ], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan adapula yang kafir. (QS. Al-insaan [76]:1-3)

Benar, telah datang kepada saya masa itu. Masa dimana saya belum bisa disebut apa-apa, bukan sel dari ayah saya juga bukan sel dari ibu saya, lihatlah betapa hinanya saya ketika itu, betapa tidak ada apa-apanya saya. Betapa lemahnya saya ketika itu, jangankan untuk bertindak, namapun saya belum punya. Bahkan ahli biologipun belum ada yang mampu menamai saya ketika itu, mereka belum bisa menamai saya spermatogonium atau oovum. Belum, belum bisa disebut apa-apa. Entah ada dimana?! Tetapi kemudian Al-Qur’an menceritakan, tiba-tiba, ketika saya memiliki sedikit penglihatan dan pendengaran, saya menjadi penentang yang nyata!

Bodohnya saya, setiap saat lupa dan melupakan, ingat tapi tak ingin mengingat, sadar tapi tak mau mengakui, tahu tetapi mencoba ingkar dan khianat, bahwa dulunya saya adalah apa yang disebut sebagai ‘belum merupakan sesuatu yang dapat disebut’ .

Lalu saya benar2 diciptakan dari setetes (tidak semua, hanya satu sel sperma dan satu sel ovum, maka dikatakan setetes [sebagian kecil]) yang benar2 bercampur (bercampur dari dua jenis, bukan hermaprodit seperti keong). Lihatlah, betapa hina asal saya, kemudian dengan sombong, tinggi hati, angkuh, saya menentang Yang Mahasuci dengan perbuataan hina saya. Dengan penglihatan, pendengaran, dan ucapan saya.

“… yang Kami hendak mengujinya [ dengan perintah dan larangan ], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan adapula yang kafir. “

Sekali lagi saya katakan benar (dan insya Allah akan selalu saya katakan benar, terhadap apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an) saya katakan benar bahwa saya hendak di uji, dengan perintah dan larangan. Untuk itu dijadikan dapat mendengar dan melihat, agar saya dapat mendengar dan melihat apa-apa yang benar, agar saya dapat menjalankannya. Agar saya dapat mendengar dan melihat apa-apa yang salah, agar saya dapat menghindarinya. (sekali lagi, saya seperti orang yang kehilangan rasa malu. Mendengar (dengan daun telinga, menggetarkan gendang, disalurkan ke tulang martil, landasan, dan sanggurdi, ke rumah keong, kemudian ke syaraf) dan melihat (dengan lensa, pupil, iris, aqueous, retina, sel kerucut dan batang, ke syaraf) sesuatu yang benar sebagai suatu kebenaran, salah sebagai suatu kesalahan. Tapi memang keras kepala, lagi-lagi semua itu saya abaikan. Benarlah bahwa malu adalah sebagian dari iman, ketika saya sudah tidak merasa malu lagi berbuat salah, maka ketika itu iman saya juga ……. [naudzubillah, summa naudzubillah].

Sesungguhnya, apabila para raja telah melihat para budak berambut putih

Maka ia membebaskannya dengan cara yang baik.

Seraya berkata; Engkau wahai penciptaku lebih mulia dari mereka

Rambutku sudah memutih semua, maka bebaskanlah diriku dari neraka. (sajak Dari buku ‘Aidh Al Qarni; bagaimana mengakhiri hari-harimu)

Maafkan aku atas ke-vulnerable-an ku. Jadikan bening hatiku lirkaca. Agar aku dapat mengaproksimasikan diri kepada-Mu.

[kemudian saya beranjak, tersenyum, bermain2 lagi, dan lupa bahwa saya pernah menulis tulisan ini. ingkarkah..]

“Wahai anak adam, sungguh selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu, betapapun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosamu setinggi langit, tapi kamu meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni. Wahai anak Adam, andaikan engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sebesar bumi ini, tapi engkau tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sebesar bumi pula” HR at Tirmidzi (3680).

3 responses to this post.

  1. sukron…dgn ayat2 ini kita bisa mengingat kebesaran
    allah

    Balas

  2. Posted by milanholics on November 10, 2008 at 1:32 pm

    gw bgt tuh
    hiks…hiks…hiks…

    hiks…hikss..
    sama dunk kita

    Balas

  3. Posted by duin on Desember 23, 2008 at 11:06 am

    ketika kita sadar akan kesalahan kita selama ini, ketika kita bisa merenungi arti dari penciptaan kita,, maka itu adalah suatu lang kah awal yg baik untuk menuju cintaNya.
    semoga kita termasuk ke dalam golongan orang yg sholeh. amiin…

    amiiin… semoga Dia tetap menyayangi kita, bahkan disaat kita jauh dan melupakannya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: