Merangkai imajinasi, Memburu nafas kehidupan

Think Globally, Act Locally… Let’s go to brighter future !

Pengemis itu aku, dan selalu kuberharap begitu… Desember 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Spirit, renungan — Abdurrahman @ 3:21 pm

Bismillah..

Ternyata setiap kejadian, apapun itu, Allah yang memegang kendali tiap-tiap apa yang akan terjadi. Sehelai daun yang terjatuh, meskipun berada di tengah surai-surai kegelapan hutan tropis. Ditutupi oleh rimbun dedaunan lainnya, Allah memegang kehendak atas daun itu, maka ia mengatur kadar airnya, hingga gugurlah ia.

Maka begitupun demikian, tiap makhluk mendapatkan rezekinya secara adil. Tak satupun yang luput dari genggaman kekuasaan-Nya, Allah rabbul ‘alamin. Juga Tak seekorpun makluk melata, melainkan Allah lah yang mengurus rezekinya. Tiap hembus nafas yang menyesaki paru-paru, kilauan sinar mentari pagi yang menerangi sudut-sudut gelap hati, dan kegelapan malam berhias gemilau bintang bersama derai tangisan hamba-Nya.

Bahkan Nafas adalah kemurahan-Nya

Semua jagad raya, tunduk, mengkerut, patuh sekali, pada kun fayakunnya. Allah tak memerlukan asbab untuk menjadikan sesuatu terjadi, atau sesuatu tidak terjadi. Ditangan-Nya lah segala kehendak-Nya.

Begitupun apa yang terjadi pada diri ini. Betapapun mimpi yang kupeluk begitu indah, jalan bertabur bunga di pelupuk mata. Kun Fayakun kata Allah, maka hilanglah semua, berlakulah ketetapan Allah padaku. Tak masalah bagiku hilangnya semua itu. Semua keindahan itu. Yang masalah adalah, ketika diri ini tiba-tiba tertampar hebat karena-Nya, ada sesuatu yang ingin Allah sampaikan kepadaku, ada kasih sayang yang ingin Allah berikan kepadaku. Bahwa semua keangkuan dan kesombongan yang selama ini melekat padaku, itu tidaklah baik wahai hambaku. Mungkin begitulah bunyi pesan itu.

Maka saat itulah, Allah menampakkan kesombongan-Nya padaku [Hanya Allahlah yang berhak berlaku sombong]. Diri ini tiba-tiba terkulai. Berderai bagai tapai. Tertiup bagai abu. Terdiam bagai malam. Malu, betapa jalan hati ini salah. Sudah seharusnya diri ini, hati ini merendahkan hati. Tak usahlah kawan, aku merendahkan hati. Kukatakan padamu, bahwa aku memang rendah, miskin, papa, lemah tanpa-Nya. Lalu apa yang pantas kutinggikan? mengapa masih juga kubiarkan keangkuhan mencengkram hati ini. Merasa besar dan kuat? Maka saat itulah Allah menampakkan keMahabesar-anNya, keMahaPerkasaan-Nya. Saat itulah, hamba merasa hancur. Hancur dalam kasih sayang-Mu.

Segala puji hanya bagi-Mu yang masih menegurku, yang masih menunjukkan jalan yang lurus kepadaku.

Tetaplah begitu, biarkan ku terus mengemis, menghiba-hiba, meraung-raung penuh tangis, mengetuk-ngetuk pintu Magfirah-Mu, jangan biarkan aku angkuh dan tertawa sombong. Tetaplah tunjukkan aku jalan lurus-Mu. Jalan orang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang yang sesat. amiin. Kasihanilah pengemis ini, Wahai Allah  Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Duhai Cinta