Merangkai imajinasi, Memburu nafas kehidupan

Think Globally, Act Locally… Let’s go to brighter future !

Tertawalah dalam tangismu… November 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Spirit — Abdurrahman @ 5:48 pm

Malam semakin larut, sunyi dan tenggelam dalam kelam. Setelah berjalan pulang, melewati ramai manusia dikedai-kedai, segera menelentangkan tubuh di pembaringan. Ternyata ada banyak canda tawa, tempat berkumpul-kumpul, bercerita di malam yang sesunyi ini. Teringat, di siang hari pun lebih lagi. Lebih banyak lagi kegiatan tawa canda, kumpul-kumpul, cerita-cerita. Hidup sepertinya indah. Penuh tawa, canda. Tapi apa benar, canda tawa adalah sebuah keindahan?

Jauh nun di pelosok bumi, entah dimana dibawah temaram malam, ada insan-insan yang tersedu-sedu. Sedih sekali. Meraung, meronta. Mereka –para manusia terasing ini– bukan seperti manusia biasa yang menangis karena kecewa, kehilangan, atau sesuatu yang telah terjadi dan hilang tak kembali. Mereka –manusia terasing ini– menangis karena sesuatu yang belum terjadi, belum terlihat, bahkan belum dapat terbayangkan. Sesuatu itu adalah kematian dan siksaan mengerikan di alam kubur, sesuatu yang mereka –insan cerdas ini– tangisi adalah ketika membayangkan suatu saat dimana wajah tertunduk malu karena melihat dan diperlihatkan aib-aib diri yang memalukan, sesuatu yang mereka tangisi itu adalah suatu saat ketika tak ada satupun penolong diri, selain amal di dunia. Sesuatu itu adalah suatu ketika saat mereka tak tahu, mana yang lebih berat, timbangan kebaikan, atau timbangan kejahatan. Ya, mereka –manusia tersembunyi ini– menangisi sesuatu yang belum terjadi itu.

Sesuatu itu belumlah terjadi, tetapi, mereka -insan terpuji ini- telah berani mencuri start, berinovasi jauh kedepan, memutus ruang dan waktu, untuk terlebih dahulu menangisi sesuatu yang tiap jiwa akan menangisinya kelak.

“Setiap mata akan menangis di hari kiamat, kecuali mata yang telah menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.”

Maka mengertilah kita, mengapa mereka mencuri-curi menangis jauh sebelum kita –manusia-manusia yang selalu tertawa ini– sadar. Bahkan kita masih berani tertawa, setelah tahu bagaimana mereka -insan mulia ini- menangis bahagia. Padahal kita yang tertawa, tidak sebahagia mereka yang menangis. Disini, kesadaran itu dibangun melalui sebuah drama berjudul paradoks manusia mulia -ketika menangis adalah kebahagiaan-. Sementara di satu bumi yang sama, di sisi yang lain, kita -naudzubillah- mungkin saja masih bermain drama kuno berjudul litotes tertawa -ketika tawa menjadi siksa-

Bukan tawa itu dilarang, Semoga tawa kita karna bermakna, tangis kita berbuah pahala. Amin Ya Rabb.

“Dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam, 19:58)

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk,” (QS Al-Isra, 17:109)

Untuk mataku yang telah lama mengering, basahlah lagi, sirami hati ini dengan iman.