Merangkai imajinasi, Memburu nafas kehidupan

Think Globally, Act Locally… Let’s go to brighter future !

Al Akhfiya’ , mereka mutiara-mutiara yang tersembunyi… November 8, 2008

Diarsipkan di bawah: Spirit, renungan — Abdurrahman @ 11:34 am

Bismillah,

Andai saya bisa menjadi mereka..mendengarnya saja sudah kagum..subhanallah..

Mereka dikenal sebagai al akhfiya, orang2 langka yang sulit dicari ataupun dikenali, orang2 mulia tersembunyi yang selalu menyembunyikan setiap kebaikan yang dilakukannya. Dihadapan manusia, mereka berlaku biasa-biasa saja, tapi setelah semua manusia menghilang, maka sebenarnya, mereka ini adalah ‘gembong mafia kebaikan yang benar2 underground’ kebaikannya tersembunyi.

Andai saya bisa menjadi mereka..mendengarnya saja sudah kagum..subhanallah..

Mereka adalah orang2 yang ketika mendengar Qur’an atau Hadis dibacakan lalu menangislah matanya karena bening hatinya, lalu para akhfiya cepat2 menoleh seakan tidak ada apa2 sambil berkata, “mmm….berat sekali flu ini

Begitulah, padahal hatinya begitu bersih, tapi tak sedikitpun keinginan untuk dipuji manusia timbul dari hatinya, menutupi putihnya hati dengan pura2 flu. Bagi mereka, pujian manusia adalah hal kecil, yang mereka, para akhfiya butuhkan hanyalah pujian Allah swt.

Andai saya bisa menjadi mereka..mendengarnya saja sudah kagum..subhanallah..

Mereka, kelakuan sehari-hari tak ubah seperti manusia biasa. Tapi dibalik itu semua, tersimpan rahasia kejernihan niat mereka. Siang hari, banyak tertawa seperti manusia pada umumnya. Tetapi ketika malam sudah beranjak, maka terdengarlah raungan tangis taubat mereka, seperti pembunuh orang sekampung, meraung menangis sejadi2nya, meminta ampun seperti orang paling berdosa sedunia. Merekalah orang2 yang shalat sunnah sembunyi2, berharap tak seorangpun di dunia ini tau tentang shalat sunnahnya. Mereka adalah manusia yang bersedekah, ketika para pengemis tertidur. Ketika bangun dan menemukan uang entah milik siapai, si pengemis hanya bersyukur dan berdoa terhadap ‘manusia tersembunyi’ ini. Betapa mereka tak ingin si pengemis tau mereka telah berinfak, jangankan untuk dipamer2kan kesemua orang.

Mereka, para manusia mulia ini, adalah mereka yang membaca Al Qur’an dengan tenang diantara khalayak, namun menangis sejadi-jadinya ketika membacanya sendirian. Mereka, orang2 yang berjalan di hamparan bumi ini seperti banyak menusia lainnya. Padahal di tiap langkahnya, bergemuruh zikir di dalam hatinya. Mulutnya sama sekali tertutup, tak berharap ada orang yang tau apalagi memuji. Mereka, para al akhfiya, orang-orang berhati mulia. Mutiara tersembunyi di balik khalayak manusia. Kebaikan2 yang tersembunyi.

Andai saya bisa menjadi mereka..mendengarnya saja sudah kagum..subhanallah..

Hanya terus berharap mimpi indah semoga men jadi kenyataan indah… menjadi beberapa bulu putih dari milyaran bulu hitam.. menjadi jarum terjatuh, langka dicari dibalik jerami insan….

 

Dua Mata, Lidah dan Dua Buah Bibir… November 8, 2008

Diarsipkan di bawah: Spirit — Abdurrahman @ 11:31 am

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Ketika membaca ayat ini, saya seolah-olah bisa melihat. Melihat apa yang pernah saya lihat dan apa yang akan saya lihat. Tak terhitung sudah hal-hal terlarang yang sudah mata ini lihat. Banyak sekali, bahkan hal itu (sangat) mungkin akan terus berlanjut. Benar, saya dianugrahi karunia besar berupa mata ini agar saya dapat memilih jalan yang benar atau jalan yang salah. Benar2 pilihan demokratis, dan saya lebih banyak menyalahgunakan kebebasan itu, dengan menyalahgunakan mata ini. Semoga saya bisa kembali dan bertahan untuk tetap menggunakan mata ini pada jalan yang benar. (tak terbayangkan jika jendela hati ini diambil, maka apalagi yang harus saya perbuat, naudzubillah)

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Juga ketika membaca ayat ini, saya seolah kembali merangsek, mengarungi memori lampau. Teringat apa saja yang pernah saya katakan. Terlalu banyak, (bahkan tak terhitung oleh saya) kata-kata kotor, bergunjing, memaki, berteriak kasar dan lainnya yang benar2 salah saya gunakan lidah ini. Padahal saya, dengan lidah ini, telah diberikan dua pilihan, baik atau buruk. Ternyata saya, lebih banyak menggunakannya untuk hal-hal yang tak sewajarnya. (hal memalukan, yang bahkan saya tau itu memalukan, tapi terus saya kerjakan).

“ Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah, dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan . ” (QS.Yaasiin [36]: 78-79)

Masih ketika membaca ayat ini, dua bibir saya, bersamaan dengan lidah. Entah telah berlaku dan bercakap apa. Tetap memalukan. Tapi tetap tak bisa mengendalikan.

“ Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya.

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. ” (QS.Asy-syams [91]:7-10)

Benar, dalam diriku, ada ilham kejahatan dan ketaqwaan. Dan benar jika ilham kejahatan disebutkan terlebih dahulu, bahwa ternyata saya ini lebih cenderung ‘ringan’ berbuat jahat dibandingkan berbuat baik yang ternyata lebih ‘berat’. Tapi malu sekali rasanya, jika harus becermin lagi. Saya ini termasuk golongan yang menyucikan jiwa, dengan mata, lidah, dan bibir saya. Atau malah (cenderung) mengotori hati dengan melihat, berucap, dan bertingkah yang salah. Benarkah hati ini telah kotor dan saya pelakunya…

“ Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya [ dengan perintah dan larangan ], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan adapula yang kafir. (QS. Al-insaan [76]:1-3)

Benar, telah datang kepada saya masa itu. Masa dimana saya belum bisa disebut apa-apa, bukan sel dari ayah saya juga bukan sel dari ibu saya, lihatlah betapa hinanya saya ketika itu, betapa tidak ada apa-apanya saya. Betapa lemahnya saya ketika itu, jangankan untuk bertindak, namapun saya belum punya. Bahkan ahli biologipun belum ada yang mampu menamai saya ketika itu, mereka belum bisa menamai saya spermatogonium atau oovum. Belum, belum bisa disebut apa-apa. Entah ada dimana?! Tetapi kemudian Al-Qur’an menceritakan, tiba-tiba, ketika saya memiliki sedikit penglihatan dan pendengaran, saya menjadi penentang yang nyata!

Bodohnya saya, setiap saat lupa dan melupakan, ingat tapi tak ingin mengingat, sadar tapi tak mau mengakui, tahu tetapi mencoba ingkar dan khianat, bahwa dulunya saya adalah apa yang disebut sebagai ‘belum merupakan sesuatu yang dapat disebut’ .

Lalu saya benar2 diciptakan dari setetes (tidak semua, hanya satu sel sperma dan satu sel ovum, maka dikatakan setetes [sebagian kecil]) yang benar2 bercampur (bercampur dari dua jenis, bukan hermaprodit seperti keong). Lihatlah, betapa hina asal saya, kemudian dengan sombong, tinggi hati, angkuh, saya menentang Yang Mahasuci dengan perbuataan hina saya. Dengan penglihatan, pendengaran, dan ucapan saya.

“… yang Kami hendak mengujinya [ dengan perintah dan larangan ], karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan adapula yang kafir. “

Sekali lagi saya katakan benar (dan insya Allah akan selalu saya katakan benar, terhadap apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an) saya katakan benar bahwa saya hendak di uji, dengan perintah dan larangan. Untuk itu dijadikan dapat mendengar dan melihat, agar saya dapat mendengar dan melihat apa-apa yang benar, agar saya dapat menjalankannya. Agar saya dapat mendengar dan melihat apa-apa yang salah, agar saya dapat menghindarinya. (sekali lagi, saya seperti orang yang kehilangan rasa malu. Mendengar (dengan daun telinga, menggetarkan gendang, disalurkan ke tulang martil, landasan, dan sanggurdi, ke rumah keong, kemudian ke syaraf) dan melihat (dengan lensa, pupil, iris, aqueous, retina, sel kerucut dan batang, ke syaraf) sesuatu yang benar sebagai suatu kebenaran, salah sebagai suatu kesalahan. Tapi memang keras kepala, lagi-lagi semua itu saya abaikan. Benarlah bahwa malu adalah sebagian dari iman, ketika saya sudah tidak merasa malu lagi berbuat salah, maka ketika itu iman saya juga ……. [naudzubillah, summa naudzubillah].

Sesungguhnya, apabila para raja telah melihat para budak berambut putih

Maka ia membebaskannya dengan cara yang baik.

Seraya berkata; Engkau wahai penciptaku lebih mulia dari mereka

Rambutku sudah memutih semua, maka bebaskanlah diriku dari neraka. (sajak Dari buku ‘Aidh Al Qarni; bagaimana mengakhiri hari-harimu)

Maafkan aku atas ke-vulnerable-an ku. Jadikan bening hatiku lirkaca. Agar aku dapat mengaproksimasikan diri kepada-Mu.

[kemudian saya beranjak, tersenyum, bermain2 lagi, dan lupa bahwa saya pernah menulis tulisan ini. ingkarkah..]

“Wahai anak adam, sungguh selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa-dosamu, betapapun banyaknya. Wahai anak Adam, seandainya dosamu setinggi langit, tapi kamu meminta ampun kepada-Ku, pasti Aku ampuni. Wahai anak Adam, andaikan engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sebesar bumi ini, tapi engkau tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sebesar bumi pula” HR at Tirmidzi (3680).

 

Kuman, teman dan iman… [gak nyambung yah?^^] November 8, 2008

Diarsipkan di bawah: Spirit, renungan — Abdurrahman @ 11:29 am

Abstrac:

Blog (tulisan ini dibuat saat jenuh UTS kalkulus [H minus 4]) hoii..hoii mas, udah lama tuh… J gak mama deh, yang penting post! J

Preword:

[hoii, mau bikin blog ato karya tulis seeeh? Pake2 abstrac ma preword segala] buat yang ketakutan megang uang lecek, buat yg ketakutan kena kotor, dll

Bismillah,

Kita misalkan ada seorang ibu yang sangat protektif dalam melindungi anaknya dari kuman sampai2 anaknya dijauhkan dari hal-hal yang bersifat kotor (saya heran dengan iklan TV yg bilang kuman ada dimana2, terus di zoom anak lagi megang uang seribuan dan bapaknya megang gagang pintu [uang dan pintu banyak kuman] ya ampun, dunia ini kan emang diciptakan penuh kuman bunk, kalo gak mau, lari aja dari bumi, cari bumi yang lain [sarkaas!!!, main keras ni?!?] lagian hargai donk Hak Azasi Kuman, kuman berhak hidup!)hoho..

Nah kita misalkan sebuah kasus untuk X dimana Y=X2 , halaah..ngaco, ok! Misalkan ada seorang anak yang dari lahir sampe umur 10 taon hidup dalam kesterilan [cut! Bukan steril mandul ya], dalam artian sangat2 higienis. Nah dengan begitu imunitas nya kan bakalan nol tuh, sel-sel pengidentifikasi kumannya ‘know nothing’ tentang kuman.

Kalo kata kakashi, mereka para imunitas, untuk kasus ini sama sekali gak tau kemapuan lawan, wong disentuh kuman aja belum pernah. Nah, pada saat ia tepat menginjak 10 tahun (pas ulang tahun) kecepatan pertumbuhannya dv/ds= 5, hitung dz/dt untuk u=10 tahun… (Hoii, ngaco! Ini bukan kalkulus!!) oke….oke….

[abang warnet dalam imajinasiku nyeletuk,” Hoiiii, lo! Mau ngenet ato belajar kalkulus di warnet?! Songong banget seeeh lo! Udah make2 jaket almamater lo, pulang-pulang! Jangan “nge-kalkulus” di warnet!! Songong sia! Lo tau, gue aje TK ga tamat, songong! Pulang,pulang! “ [caaa elaa...bahasa si abang, nge-kalkulus, kayak nge-jam aje...] “cheee-tAAkkkKK !!….wah busy…t*maaf sebagian teks hilang*, kepala gue dilemparing ma monitor…aduh…”hei, gak denger lo?pulang sono!”…] J juzt imagination.

Nah pas ultah 10 tahun, tuh anak dideketin ma temennya yang penyakit flu (si temen dah biasa kena flu) saat virus flu masuk ke tubuh ke anak steril [wacth out! Bukan mandul] maka, konoha gak punya informasi apa2 tentang akatsuki, maka sekali serang, konoha langsung tumbang dan tinggal nama…

(yah, writernya ngacok narutok lagik) gak diing, tuh imunitas anakkan gak tau apa2 tentang flu, sekali serang si anak yg 10 thun gak pernah kesentuh kuman, bisa aja langsung mati, karena gak punya imunitas (data imunitas). Karena bisa aje flu biasa malah dianggap flu burung, sars, tbc dll…hehe, maklum, belum pernah sakit.

Tuhkan,…konoha aja punya jiraiya buat memata2i akatsuki, sehingga konoha punya persiapan (imunitas) masa kita harus hidup steril, gak boleh megang uang lecek, gk boleh main tanah, gak boleh megang cewek [ye...itu mah emang gak boleh] gak boleh main cewek [apalagi yang ini, + g boleh..haha]

Nah, lihatlah si temen yang biasa dapet flu tadi… he feel nothing man …sambil ngelus rambut licinnya, si temen ngoceh “gue udah biasa koq dapet cobaan kayak gini,..itu derita lo, pengen hidup steril, songong seeh. Mati-mati lo”.

Nah gitu juga manusia, selalu diberi cobaan2 yang bertingkat2 agar benar2 terasah dan terseleksi… jangan seumur hidup senaaaaang mulu, pas suatu hari berebut ceban [ceban= uang sepuluh ribu, tapi bisa juga diartikan ‘Cewek BANdung’ hehe... , langsung KO, bunuh-bunuhan, mutilasi-mutilasian, potong sana potong sini, potong gaji, potong royong [hoi, gotong royong!]…. yo ze!..semangat!!